


Saya hidup lebih buruk daripada binatang di Desa Asri. Setiap hari Kakek memukul dan memarahi saya, menyebut saya anak tak berguna. Hanya monyet kecil di dalam kurungan itu – yang pincang, jarinya putus, dan selalu ditindas – yang membuat saya merasa senasib. Sampai pada suatu hari, saya melihat dengan mata kepala sendiri monyet kecil itu membuka gembok kurungan seperti manusia, melahap mayat sesamanya, lalu lenyap ke dalam pegunungan dalam. Waktu itu saya belum tahu bahwa balas dendam berdarah yang akan melanda seluruh desa baru saja dimulai…