


Saat hari nikah, yang pegang simpul cinta bareng Sekar Adiprana bukan Tuan Sulung yang sakit parah, tapi Ardian Pratama. Setelah tinggalkan surat cerai, Tuan Sulung meninggal, Ardian pergi ke perbatasan. Sekar jadi janda dari putra sulung, jaga sekeluarga, jualan puding tahu demi hidup. Sampai sang jenderal perang pulang penuh kemenangan dan ngotot mau nikahi dia. Semua kira dia cuma mau balas budi. Padahal cuma Ardian yang tahu, di malam dingin saat nyaris mati di medan perang, dia bertahan karena surat dan pakaian hangat buatan Sekar.